Ruang Sastra Untuk Pendidikan Indonesia
Friday, 29 September 2017
Thursday, 8 June 2017
Sunday, 26 March 2017
Puisi "Ibu" SMK Nurul Islam Larangan
Friday, 28 October 2016
Pembelajaran Aktif yang OK
Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.
A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI
Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”.
Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, po bunga, tempat sampah)
Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual.
Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun.
Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
Ada forum penyaluran keluhan peserta didik.
Iklim sekolah lebih demokratis.
Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik.
Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin.
Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders).
B. SUMBER DAYA MANUSIA
Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.
Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah.
Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.
Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.
Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.
Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.
Peserta didik berani bertanya kepada guru.
Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.
Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.
Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.
C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR
Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.
Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru.
Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.
Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu.
Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.
Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi.
Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.
Ada sarana belajar yang bervariasi.
Digunakan beragam sumber belajar.
D. PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN
Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan.
Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar.
Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.
Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.
Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.
Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan.
Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.
Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu.
==========
Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010. Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif; Buku I Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta.
Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian.
A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI
Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada ”menghasilkan” daripada ”memahami”.
Sekolah menyelenggarakan ajang ‘kompetisi’ yang mendidik dan sehat.
Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, po bunga, tempat sampah)
Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual.
Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun.
Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah.
Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang.
Sekolah rapi, bersih, dan teratur.
Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah.
Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat.
Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru.
Ada forum penyaluran keluhan peserta didik.
Iklim sekolah lebih demokratis.
Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik.
Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat.
Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif.
Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu).
Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin.
Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin.
Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders).
B. SUMBER DAYA MANUSIA
Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru.
Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah.
Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar.
Guru mengenal baik nama-nama peserta didik.
Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian.
Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik.
Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar.
Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik.
Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas.
Peserta didik berani bertanya kepada guru.
Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat.
Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru.
Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama.
Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah.
Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling.
Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi.
Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar.
Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar.
Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah.
C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR
Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar.
Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru.
Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik.
Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu.
Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain.
Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi.
Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru.
Ada sarana belajar yang bervariasi.
Digunakan beragam sumber belajar.
D. PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN
Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan.
Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar.
Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan.
Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik.
Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik.
Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan.
Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar.
Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu.
==========
Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010. Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif; Buku I Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-Nilai Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta.
Tuesday, 25 October 2016
Mindset Pendidikan 2016 yang Tanya
Mindset Pendidikan 2016 yang Tanya
MENINGGALKAN
kegelapan pendidikan pada 2015 ialah sebuah keharusan. Saya sepakat
dengan Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, bahwa
persoalan pendidikan terlalu banyak untuk diselesaikan dalam waktu yang
singkat. Namun, setidaknya keyakinan untuk membangun mindset baru harus
terus dilakukan karena sejatinya pendidikan merupakan upaya untuk
menjadikan setiap orang memiliki daya nalar yang kritis sekaligus
karakter yang kuat. Jika mindset pendidikan kita sepanjang 2015
penuh dengan kegelisahan menyangkut kebijakan pendidikan yang kurang
responsif mengikuti kehendak dan kemampuan masyarakat, harapan terhadap
mindset perubahan pendidikan pada 2016 harus dimulai.
Setidaknya, ada
dua kebijakan penting yang telah diambil Kemendikbud menyangkut
perubahan mindset pendidikan kita. Pertama adalah penundaan implementasi
Kurikulum 2013 yang belum sempurna dan perlu untuk dievaluasi penahapan
implementasinya, terutama pada cara melatihnya terhadap guru dan esensi
penilaian yang terbilang ruwet dan perlu pembiasaan yang berkelanjutan.
Dalam konteks implementasi Kurikulum 2013, saya menilai sebenarnya
tidak terlalu signifikan perubahannya jika unit analisis pelatihannya
tetap difokuskan pada guru sebagai individu, sebagai pengampu bidang
studi.
Kebijakan kedua
yang diharapkan juga mampu mengubah mindset para pelaku pendidikan di
tingkat sekolah adalah diubahnya orientasi pelaksanaan UN dari yang
sebelumnya menjadi penentu kelulusan siswa, dengan mengembalikan hak dan
tanggung jawab guru dan sekolah sebagai penentu kelulusan siswa-siswi
mereka. Kedua kebijakan ini jelas signifikan untuk mengubah mindset dan
orientasi pendidikan kita yang harus lebih besar lagi memercayai
prosesnya daripada hasilnya. Belum lagi persoalan kekerasan di sekolah
yang angkanya masih tetap tinggi, bisa jadi merupakan rentetan dari
persoalan implementasi kurikulum dan standar penilaian jenis UN yang
menyebabkan terjadinya kekerasan serta ketidakjujuran di sekolah.
Strategi implementasi
Kedua kebijakan
tersebut, dalam jangka menengah perlu ditindaklanjuti dengan strategi
implementasi yang memadai agar perubahan mindset benar-benar terjadi.
Karena itu, tak bisa dimungkiri, diperlukan strategi kebudayaan dan
pembudayaan yang pas dan tepat guna bagi perubahan mindset kependidikan
kita dalam konteks rencana implementasi kurikulum baru dan penumbuhan
budaya sekolah yang sehat dan positif.
Jika kebudayaan
ialah sumber energi kehidupan manusia, semisal air, pendidikan ialah
saluran tempat ke mana air harus mengalir. Keduanya tak mungkin kita
pisahkan sampai kapan pun juga. Karena itu, menjadi tuntutan kita untuk
memasukkan strategi kebudayaan dalam rencana implementasi kurikulum baru
serta menumbuhkan budaya sekolah, terutama ketika para guru akan lebih
banyak untuk berinteraksi secara kreatif untuk meningkatkan kompetensi
sikap siswa.
Dalam konstelasi
rencana penahapan implementasi Kurikulum 2013, strategi kebudayaan jelas
harus ditubuhkan dan ditumbuhkan secara sekaligus ke dalam relung jiwa
setiap guru, terutama ketika proses belajar-mengajar berlangsung di
ruang kelas. Bagaimana caranya? Jika granddesign kurikulum baru adalah
penubuhan dan penumbuhan sikap siswa untuk menjadi manusia yang
berbudaya dan berkeadaban, proses berlangsungnya suasana
belajar-mengajar jelas memerlukan sebuah pendekatan yang kreatif dan
menyenangkan. Di sinilah sebenarnya kebutuhan how-to secara praktis perlu dipikirkan secara komprehensif oleh semua stakeholder pendidikan.
Secara praksis, penting untuk memperkenalkan modelmodel pembelajaran berbasis kreativitas (creative learning)
bagi guru-guru kita sebagai strategi implementasi kurikulum baru. Dalam
pembelajaran berbasis kreativitas, guru dapat diperkenalkan dengan
teknik-teknik berpikir kreatif serta jenis-jenis hambatan psikologis (mental blocks)
dalam berpikir kreatif. Pendekatan lain yang juga memungkinkan untuk
meningkatkan cara berpikir kreatif guru ialah memperkenalkan guru dengan
system thinking in school-nya Peter Senge.
Selain kemampuan
berpikir kreatif, guru juga perlu dibekali dengan strategi pembelajaran
kreatif berbasis budaya lokal dan nasional. Ada begitu banyak pendekatan
yang bisa diadaptasi guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung
secara kreatif dan menyenangkan. Tools atau alat yang mungkin digunakan untuk menciptakan pembelajaran kreatif ialah sejenis cara berpikir sebab akibat (causal loops), pembelajaran tematis, behavior over time graphs (BOTG’s), stock and flows, EELDRC (enroll, experience, label learning, demonstrate, review, celebrate), dan narrative chains. Problemnya ialah, adakah skenario ini dalam rencana implementasi Kurikulum 2013?
Metode dan
alat-alat yang disebutkan di atas, jika dirancang dalam sebuah modul
yang bertanggung jawab pasti dapat menjadi jembatan bagi upaya
menumbuhkan sekaligus menubuhkan budaya dan tradisi siswa yang lebih
mandiri dan berkarakter. Dalam jangka panjang, tentu saja kemampuan
inilah yang diharapkan diadaptasi Kemendikbud sebagai alasan
pengembangan
Kurikulum 2013
yang terdiri dari kemampuan berkomunikasi, berpikir jernih, dan kritis.
Selain itu, mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, menjadi
warga negara yang bertanggung jawab, kemampuan mencoba untuk mengerti,
dan toleran terhadap pandangan yang berbeda. Kemampuan hidup dalam
masyarakat yang mengglobal, memiliki minat luas dalam kehidupan,
memiliki kesiapan untuk bekerja, memiliki kecerdasan sesuai dengan
bakat/minatnya, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sekali lagi, jika
diamati secara saksama, rencana Kurikulum 2013 ini bagi saya harus kuat
mengagendakan penguatan kapasitas sekolah dalam rangka menumbuhkan
budaya sekolah yang sehat. Budaya sekolah yang sehat hanya dapat
dibangun melalui strategi kebudayaan yang tepat dengan cara memberikan
guru pelatihan dan workshop yang menunjang kemampuan ber pikir kritis, menyelenggarakan pembelajaran yang kreatif, serta memahami struktur filosofis grand-design kurikulum baru yang lebih berorientasi pada penanaman karakter yang kuat terhadap peserta didik.
Penting untuk diingat, selama lebih dari tiga dekade, perubahan kurikulum di Indonesia selalu bersifat top-down approach. Yin Cheong Cheng dalam Effectiveness of Curriculum Change in School: An Organizational Perspective
(1994), mengingatkan agar perubahan kurikulum bisa berlangsung
setidaknya di tiga level, yakni individu guru, kelompok, dan sekolah.
Karena itu, strategi kebudayaan dalam pendidikan kita juga seyogianya
memasukkan agenda seperti perbaikan manajemen sekolah, memberlakukan
kurikulum berbasis sekolah, serta membiarkan sekolah memiliki strategi
implementasi kurikulum berdasarkan perencanaan pengembangan sekolah yang
sesuai dengan visi dan misinya ialah sebuah keniscayaan. Dibutuhkan workshop penguatan kapasitas leadership
guru dan manajemen sekolah dalam proses implementasi Kurikulum 2013.
Dengan ini semua, semoga harapan Kemendikbud agar terjadi perubahan mindset di lingkungan pendidikan kita akan terwujud.
Membangun Tradisi Nalar-Kritis Guru
Membangun Tradisi Nalar-Kritis Guru
SUDAH
umum diketahui bahwa hasil uji kom petensi guru (UKG) sejak 2012 hingga
2015 bergerak stagnan sebagai pertanda rendahnya mutu guru, baik secara
pedagogis maupun akademik. Meskipun di beberapa daerah ada guru yang
menonjol dan berprestasi, rerata kualitas guru di Tanah Air masih
menyedihkan. Belum lagi, jika hal itu diikuti dengan pengamatan langsung
di tingkat sekolah melalui serangkaian pelatihan, sangat terlihat bahwa
guru-guru kita kebanyakan ialah `pegawai’ sekolah yang kurang memahami
filosofi dasar mengajar dan hanya melihat profesi guru sebagai pekerjaan
semata.
Kondisi semacam itu tentu saja tak bisa
dibiarkan jika kualitas pendidikan kita ingin bergerak maju. Kebutuhan
pelatihan guru yang berpangkal pada kebutuhan dasar pengajaran
berkarakter harus dilakukan melalui serangkaian strategi yang tepat,
sesuai, dan aplikatif di tingkat sekolah.Ada banyak sekolah, negeri dan
swasta, yang memiliki tradisi pelatihan yang membangun tradisi
nalar-kritis guru melalui program pengembangan kapasitas yang siklus dan
keberlanjutannya dilakukan sendiri oleh pihak sekolah.
Tiga komponen
Dalam pengalaman Sekolah Sukma Bangsa
(SSB), pelatihan guru merupakan kebutuhan dominan yang harus dilakukan
sekolah, minimal sekali dalam sebulan. Materi pelatihan ditentukan
berdasarkan peta evaluasi kemampuan guru yang mencakup kecakapan
profesi, pedagogis, kepribadian, dan sosial yang diperoleh secara
periodik melalui laporan konselor, kepala sekolah, dewan guru, dan
evaluasi siswa. Data itu kemudian diolah tim pengembang kurikulum untuk
menentukan desain kebutuhan pelatihan guru yang sesuai dengan peta
kemampuan guru.
Ada tiga komponen utama yang sedari awal
harus dipahami guru ketika akan mengajar.Pertama ialah menggali
kemampuan profesi dan kepribadian guru melalui pengenalan gaya belajar
siswa (learning style). Pengetahuan dan pemahaman guru terhadap
gaya belajar siswa di banyak sekolah sangat memprihatinkan-untuk tidak
menyebutnya sama sekali tak dipahami secara baik. Apalagi, ketika
diakses melalui serangkaian tes, sangat terlihat kemampuan guru
mengaplikasikan gaya belajar siswa sebagai basis membangun strategi
belajar yang tepat bagi anak-anak terlihat masih sangat miskin dan
kurang inovatif.
Mengenali keberbakatan anak melalui peta
gaya belajar menurut saya merupakan pengetahuan dasar yang harus
dipahami guru, termasuk bagaimana cara memetakan gaya belajar itu dari
hari ke hari. Dalam pelatihan, keterampilan membuat instrumen kesiapan
belajar siswa (assessment for learning) merupakan keharusan di
SSB untuk meningkatkan daya nalar dan kritis guru terhadap kondisi siswa
secara utuh. Pendampingan terhadap kemampuan guru ini menjadi domain
wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk selalu memantau dan
mengevaluasinya.
Komponen kedua yang menurut saya juga penting untuk dilatihkan secara terus-menerus ialah memetakan kemampuan gaya mengajar (teaching style)
guru berdasarkan tradisi belajar yang telah diperolehnya selama di
perguruan tinggi. Ada banyak guru yang paham definisi kognitif, afektif,
dan psikomotorik, tapi ketika gaya mengajar ini dibenturkan dengan gaya
belajar siswa, hampir semua guru merasa kesulitan karena di perguruan
tinggi gaya mengajar hanya dipelajari dalam konteks pengetahuan semata
tanpa ada keterkaitan dengan proses mengamati gaya belajar siswa.
Dibutuhkan instrumen yang baik untuk mengajari guru agar memahami secara
sekaligus antara gaya belajar dan gaya mengajar.
Saya menemukan begitu banyak guru yang
mengetahui gaya kognisi, afeksi, dan psikomotorik dalam balutan rumus
A1, C2, P2 dan seterusnya.
Namun, ketika digunakan dalam praktik
belajar mengajar di kelas, itu sama sekali tak terlihat dampaknya
terhadap siswa. Pemahaman gaya mengajar dengan cara ini malah membawa
guru terperosok jauh ke tradisi nalar statis yang sangat formalistis.
Selain kemampuan profesi dan kepribadian tak terasah, pe ngenalan gaya
mengajar secara salah dan serampangan jelas akan membawa guru pada
rutinitas mengajar yang sangat kaku dan miskin inovasi.
Komponen ketiga yang juga penting untuk
membangun tradisi nalar kritis guru ialah mengenalkan mereka secara
aplikatif teori belajar (learning theories) yang sesuai dengan
gaya mengajar mereka dan gaya belajar siswa. Pada tahap ini, jika
dilakukan simulasi secara kreatif melalui sebuah skema perputaran antara
gaya belajar siswa, gaya mengajar guru, dan pemahaman terhadap teori
belajar yang pas, dapat dipastikan kemampuan nalar kritis siswa akan
meningkat. Dalam waktu yang bersamaan, hal ini jelas akan berdampak juga
pada kemampuan nalar kritis siswa. Meskipun ada begitu banyak teori
belajar, jika diskemakan dan dipertautkan dengan gaya belajar dan
mengajar, menurut pengalaman SSB, itu justru akan meningkatkan kemampuan
instingtif guru untuk cermat dalam memilih teori belajar yang sesuai.
Mempertautkan gaya belajar, gaya
mengajar, dan teori belajar dalam satu tarikan napas program pelatihan
guru di tingkat sekolah jelas akan meningkatkan tradisi nalar kritis
guru. Di dalam pelatih an, guru menjadi terbiasa dan familier untuk
membuat mind-map ketiga komponen itu dalam rangkaian persiapan mengajar.
Misalnya, ketika guru menyadari lebih banyak siswa mereka yang memiliki
gaya belajar auditoris, mereka bisa bereksperimen menggunakan gaya
mengajar yang mengandalkan aspek kognisi dengan pendekatan teori belajar
behavioristik. Ketika dituangkan ke mind-map, terlihat ada
begitu banyak inisiatif dan inovasi yang memungkinkan untuk dilakukan
guru dalam proses belajar-mengajar di kelas.
Tak ada yang lebih menyenangkan selain
menyaksikan para guru selalu memiliki beragam cara, strategi dan
pendekatan, hingga metode dan media belajar yang juga beragam ketika
mengajar di kelas. Mereka tak lagi mengandalkan rumus-rumus membuat
lesson-plan atau RPP yang biasanya sangat kaku dan hanya berlaku untuk
diri mereka sendiri, tetapi abai melibatkan gaya belajar siswa-siswa
mereka yang sangat beragam dan dinamis.
CARA BELAJAR ALA FINLANDIA vs KURIKULUM 2013
Cara Belajar Ala Finlandia: 45 Menit Belajar, 15 Menit Istirahat
Tahukah kamu bahwa untuk setiap 45 menit
siswa di Finlandia belajar, mereka berhak mendapatkan rehat selama 15
menit? Orang-orang Finlandia meyakini bahwa kemampuan terbaik siswa
untuk menyerap ilmu baru yang diajarkan justru akan datang, jika mereka
memilliki kesempatan mengistirahatkan otak dan membangun fokus baru.
Mereka juga jadi lebih produktif di jam-jam belajar karena mengerti
bahwa toh sebentar lagi mereka akan dapat kembali bermain.
Di samping meningkatkan kemampuan fokus
di atas, memiliki jam istirahat yang lebih panjang di sekolah juga
sebenarnya memiliki manfaat kesehatan. Mereka jadi lebih aktif bergerak
dan bermain, tidak hanya duduk di kelas. Bagus juga kan jika tidak
membiasakan anak-anak dari kecil untuk terlalu banyak duduk.
SI KURIKULUM PENUH TANYA, 2013 KATANYA
FAKTA UNIK SEPUTAR KURIKULUM 2013
- Kurikulum 2013 adalah Kurikulum yang ke-10, kurikulum di Indonesia telah berganti-ganti sebanyak 9 kali. ( filosofinya, banyak kurikulum akan menyehatkan badan…. kayak minum obat saja )
- Kurikulum 2013 diterapkan sejak Senin 15 Juli 2013. ( namanya juga K13 ya dimulai tahun 2013. Sayangnya mereka lupa bahwa 13 itu angkan keramat…. )
- Kurikulum 2013 dihentikan pada Jumat 5 Desember 2014. ( Lho koq cepet amat mas…. )
- Sudah 3 tahun berjalan tertatih-tatih, belum terlihat hasil yang signifikan, masih membingungkan dan cenderung membosankan. ( Gue kate juge ape….. )
- Dana yang dihabiskan untuk implementasi 7 T lebih. ( Wuihhhh …. angka apa itu ?? )
- Pengintegrasian mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kedalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. ( Bertentangan dengan scientific ! )
- Penghapusan Mata Pelajaran TIK & KKPI tanpa adanya satupun alasan yang rasional. ( ya No Problemo lah…. lihat saja 3 tahun ke depan … )
- K13 akan mengurangi beban Jam belajar siswa, kenyataannya ? di semua jenjang beban ditambah. ( Kerja, kerja, kerja …. capek deh… )
- kekacauan dalam memahami kompetensi disiplin ilmu dengan kompetensi karakter, yang tidak akan mungkin dibereskan dengan berjalannya waktu karena sistem pemikiran yang mendasarinya sudah salah sejak awal. Pemaksaan integrasi antara kompetensi pendidikan karakter, yang diredusir pada pendekatan kerohanian dan sikap, serta kompetensi disiplin ilmu (pengetahuan dan keterampilan) melahirkan untuk pertama kalinya dalam sejarah kurikulum nasional proses agamanisasi kurikulum.
( Untuk lembar penilaian observasi,
komponen sikap yang harus dinilai oleh guru adalah tanggung jawab,
jujur, peduli, kerja sama, santun, percaya diri, dan disiplin. Guru
harus mengamati tujuh sikap agar dapat mengisi setiap kolom penilaian.
Apabila dalam satu kelas guru memiliki 30 siswa, berarti ada 210 kolom
yang harus diisi oleh guru untuk menilai kompetensi sikap siswa.
Mungkinkah guru mampu mengisi secara mendalam penilaian sikap ini dalam
dua atau tiga jam tatap muka ?
Persoalannya bukanlah apakah guru
mampu atau tidak menilai sikap siswa. Akan tetapi, kecenderungan
memasukkan penilaian spiritual dan sikap dalam setiap tatap muka melalui
indikator-indikator yang tidak dapat dikuantifikasi inilah yang membuat
proses pembelajaran justru jauh dari rel utamanya, yaitu akuisisi ilmu
pengetahuan.
Ada dua kemungkinan sikap guru
terkait proses penilaian sikap. Guru lebih mengutamakan proses
pembelajaran untuk penguasaan materi pelajaran dan mengesampingkan
proses penilaian spiritual dan sikap, atau jika ingin mengutamakan
keduanya, akhirnya pendalaman materi pembelajaran yang terabaikan.
Banyak guru memilih mengutamakan
pembelajaran ketimbang sibuk mengamati perilaku spiritual dan sosial
siswa. Akibatnya, penilaian sikap spiritual dan sosial yang dianggap
sebagai kekuatan Kurikulum 2013 hanya menjadi formalitas tanpa isi. )
- Usaha untuk spiritualisasi semua mata pelajaran. Alhasil, setiap mata pelajaran akan dinilai keberhasilannya berdasarkan terpenuhinya Kompetensi Inti 1 (sikap spiritual), Kompetensi Inti 2 (sikap sosial), Kompetensi Inti 3 (pengetahuan), dan Kompetensi Inti 4 (keterampilan). Kompetensi Inti 3 dan 4 sesungguhnya sudah ada dalam kurikulum sebelumnya. Praktis tidak banyak perubahan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menilai kompetensi spiritual dan sosial dalam setiap mata pelajaran ?
( Penilaian kompetensi spiritual
dalam Kurikulum 2013 sering kali ditandai indikator yang sangat
ritualistik dan reduktif, seperti siswa berdoa sebelum memulai dan
mengakhiri pelajaran, atau indikator aneh, seperti siswa dapat bersyukur
atas anugerah bahasa Indonesia. Bagaimana menilai rasa syukur seperti
ini ? )
Kekacauan dalam implementasi
Kurikulum 2013 bukanlah semata-mata persoalan teknis, seperti masalah
percetakan dan distribusi buku dan belum berhasilnya program pelatihan
guru, melainkan karena pijakan teoretis-konseptual Kurikulum 2013 tidak
kokoh dan secara praksis pun bermasalah.
Akibatnya, pendidikan hanya menjadi
bahan kampanye politisi, entah mengatasnamakan revolusi mental atau apa
pun. Namun, ketika tiba waktunya untuk mengoreksi kekeliruan fundamental
ini, mereka tak berani mengambil sikap. Alih-alih mencoba memahami
mengapa implementasi Kurikulum 2013 gagal, ‘mereka’ lebih suka memilih
zona aman dengan argumentasi pinggiran yang jauh dari persoalan utama
Kurikulum 2013.
Monday, 18 April 2016
Coffee VS Pregnancy
Coffee VS Pregnancy
For
many couples, the child is a gift that God entrusted to be maintained and cared
for. Children also become the desire of many people who are already married.
That is why the news of the pregnancy would be a happy news to celebrate.
That is also
why pregnant women are required to maintain the condition that the content of
the bad things that are not desirable as miscarriages occur. One factor that
could increase the likelihood of miscarriage is from food and beverages. And it
turns out, the drinks that many people enjoy these include considerable danger.
According to
a recent study, drinking caffeinated coffee a height of 2 times a day in the
weeks before giving birth it could increase the potential for miscarriage until
doubled. The potential of miscarriage is also increased if the mother is more
than 2 servings of caffeinated coffee during the first 7 weeks of pregnancy.
Caffeine is
already known to increase the likelihood of miscarriage in previous health
studies, but which became the new news in this study is the coffee consumption
in men was also a factor affecting the health of his wife.
It is not
yet known exactly why caffeine increases the likelihood of miscarriage,
allegedly caffeine possibility of turning off some genes or certain qualities
in sperm. However, the researchers are confident that excessive caffeine
consumption is not good for the womb.
Coffee
drinking habits before pregnancy also affects pregnancy. So should you stop
coffee consumption if they plan to become pregnant. Prepare the body first to
be free of caffeine, keep body weight and multiply nutrients from food.
However, the
content of each woman's condition is different. Although not mean that coffee
can make you a miscarriage just like that, but it helps you pay attention to
the consumption of coffee from now. Please be healthy yes ladies.
How To Overcome Cholesterol
How
To Overcome Cholesterol
If you go to the doctor and he tells you your
cholesterol levels, you are usually told TOTAL cholesterol in your blood. Have
you ever wondered how the entry of cholesterol into your blood? Some
cholesterol is absorbed by the body comes from the food you eat.
Why does the body NEED cholesterol?
The human body needs cholesterol to make hormones
important one of the hormones estrogen and testosterone. In addition,
cholesterol is part of the protective membrane that surrounds nerves and other
cells. Cholesterol is a fatty substance that is shaped like substance.
Any food that contains cholesterol?
Food of animal origin are the ONLY foods containing
cholesterol. Such as meat, cheese, milk, etc. Foods derived from plant-based
foods is NOT contain cholesterol. Actually, there are a number of factors that
affect your blood cholesterol levels. But food is an important factor that a
greater role in raising cholesterol levels in the blood.
Before buying food are encouraged to read food
labels beforehand to see whether the food is low in cholesterol or not. How do
you know if the product is low in cholesterol? Dikemasan usually written in
INFORMATION NUTRITIONAL VALUE, the food is low-fat or not.
Instructions for cholesterol per serving:
1. Free Cholesterol - The percentage of less than 2
mg of cholesterol and less than or equal to 2 g of saturated fat
2. Low Cholesterol - Less than or equal to 20 mg of
cholesterol and less than or equal to 2 g of saturated fat
3. Reduced OR Less Cholesterol - At least 25% less
cholesterol than the original and less than or equal to 2 g of saturated fat
Saturated fats increase levels of "bad"
LDL cholesterol in the blood.
Unsaturated fat levels are actually lower than the levels
of LDL cholesterol. In addition to cholesterol-lowering "bad" LDL
cholesterol, polyunsaturated fats also lower levels of "good" HDL
cholesterol.
For maximum benefit and effectiveness, you should
continue to eat foods low in fat and cholesterol and keep exercising.
Medically speaking, doctors have been using
medications to control blood cholesterol levels. Cholesterol-lowering drugs
known as "antihyperlipidemic agent". One example of traditional
medicine that can be used to lower blood cholesterol levels, namely: water
decoction of bay leaves, bay leaves only used for flavoring dishes because it
has flavonoid and tannin substances which can serve to lower cholesterol.
Five Things You Need To Know About High Cholesterol
1. High Cholesterol You Can Be Cause of Death you.
High cholesterol is a risk factor that is most
significant for coronary heart disease. To prevent this, find out now if you
have high cholesterol. If your cholesterol level is high, you can take steps to
lower it.
2. Does Your Body Need Some Cholesterol
3. How Much You Have Cholesterol?
If you do not know your blood cholesterol level, you
need to check it out. So if your cholesterol level is 800, it means you have
800 milligrams of cholesterol in every tenth of a liter of blood. And that means
you have very high cholesterol levels. Because normal cholesterol level is 200
mg / dL.
4. There are 3 Kinds of Cholesterol.
Total cholesterol consists of three types of
cholesterol:
- LDL cholesterol, also known as bad cholesterol.
- Cholesterol HDL, or good cholesterol, and
- VLDL cholesterol (which is not considered so
important).
Doctors recommend that you keep your LDL cholesterol
levels below the cholesterol level of 100 mg / dL, and HDL above 40 mg / dL.
5. You Can Reduce Your High Cholesterol.
To reduce total cholesterol, doctors and
nutritionists recommend eating less fat and eat more foods that are high in
fiber (such as oatmeal, for example) and exercise, for example aerobic improve
our cardiovascular function.
Cholesterol is a danger of the Invisible.
Cholesterol is nothing more than an association of
steroids, lipid and alcohol were found in the cell membranes of all body
tissues. It is transported into the blood and can be found in all animals.
Cholesterol has the chemical formula C27H45OH cholesterol.
Many things have been said about cholesterol. Some
doctors only recommend free diet foods that contain cholesterol and some of the
others are still allowed to eat food with cholesterol albeit with a certain
level.
LDL and HDL: what's the difference?
LDL (low density lipoprotein) and HDL (high density
lipoprotein) is a type of cholesterol. Each with a different role, but they are
all the same.
LDL cholesterol is commonly called "bad
cholesterol" because high levels of LDL can lead to coronary disease. HDL
is considered "good cholesterol". Remember that the higher the levels
of LDL and lower HDL levels can cause arteriosclerosis (narrowing of the
arteries), while keeping a low level of LDL cholesterol and high HDL helps
prevent that happening.
People are always worried about the level of normal
cholesterol levels. Here is a simple guide to cholesterol:
Total cholesterol: should be kept below 200
LDL cholesterol: should be kept below 130
HDL cholesterol: should be kept 60 or higher
The most important thing about cholesterol, ignoring
all these figures, it should be done by simply keeping under 200.
Some Things You Can Prevent High Cholesterol
People can do several things to prevent high
cholesterol from occurring and to reduce cholesterol levels if they are already
high:
1. Frequent Sports
2. Stop smoking
3. Avoid Junk Food
4. Eat plenty of fresh fruits and vegetables
5. Drink tea juices and soft drinks INSTEAD
6. Avoid alcoholic beverages
7. Lose weight if you are overweight or obese.
The most important thing to do is to keep
cholesterol under control. Proverb says that "Prevention is better than
cure".
Article
Environmental education
Environment and human
life is a component interdependencies. Environment consists of biotic and
abiotic environment. Biotic environment is an environment that consists of a
community of living organisms, such as plants and animals. While of an
environmental abiotic environment is composed of inanimate objects, such as
light, temperature, air, water, soil, minerals and moisture. Humans need the
environment to support daily activities and human environments require that the
results of the environment can be best utilized. Therefore, because the
environment is very important for humans, the humans must preserve it and use
it wisely. For that, people need to be equipped for Environmental Education
from an early age in order to properly treat the environment around it. This is
also confirmed by the signing of a memorandum of understanding (MoU) between
the Ministry of National Education (MONE) and Ministry of Environment (MOE) in
1996 and then revised in June 2005. The signing of the MOU is significant as an
attempt to seek how the love of the environment can be as a charge of education
for students of students from an early age in formal education. Because all
composed or structured from the start, is expected to provide results or
achievement of better environmental management.
There
are different kinds of understanding of Environmental Education (EE). According
to the convention of UNESCO in 1997, the Environmental Education is a process
that aims to create a global community with a concern for the environment and
the problems associated therein and has the knowledge, motivation, commitment
and skills to work both individually and collectively in seeking or provide
alternative solutions to environmental problems that exist now and to avoid
environmental problems of life.
According
to Yusuf (1994) Environmental education is a process of developing an appreciation
of the interdependence between human and biophysical and auxiliaries that
terbina attitudes and values would memelihra harmonious relationship between
the components of the environment.
Then
according Soeriatmadja in 1997, Environmental education is a process that aims
to develop an awareness of humanity will be living environment with all the
problems contained therein. Thus, we can conclude the understanding of
Environmental Education (EE) is a process that has the aim to create a society
that is aware of the environment by taking into account environmental problems
that occur and can provide solutions to overcome them.
Environmental
Education (EE) also has a vision and mission. Vision for Environmental
Education is the realization of human beings who have the knowledge, awareness
and skills to play an active role in rangkaa preserving and improving the
environment. While the mission of the Environmental Education, among others:
• Develop a national
education policy paradigm of the environment
• Improving access to
information evenly environmental education
• Increase synergies
between actors of environmental education
• Develop institutional
capacity for environmental education
Environmental
education is directed to aspects of the attitudes and behavior of student
learners to understand the importance of the environment for life and how to
love and maintain the environment so that it becomes embedded in their daily
lives. With the environmental education is taught, it is expected to encourage
and give people an opportunity to acquire the knowledge, skills and attitudes
that can foster awareness, commitment to protect and improve and utilize the
environment wisely, it can also create new patterns of behavior that is
friendly to environment and are able to develop environmental ethics.
Environmental
quality has been bad this time was different to the environment at an earlier
age. This is a result of increased pertambahn population and rapid
technological development. Pollution is everywhere and make people worry about
the state of the environment. Seeing the environmental problems that occur when
rapidly evolving and complex, expected for Environmental Education is able to
contribute to the environmental quality of life better. Keep in mind once again
that the environment and human interdependence, need each other. So, people
must start from now to more wisely manage the environment so that in the future
our children can feel the quality of the environment is good.
Character Education For Success Foundation of Civilization Nation
Character
Education For Success Foundation of Civilization Nation
Character
education is now indeed become a major issue of education, in addition to being
part of the process of forming the morals of the nation, character education is
also expected to become a major foundation in the success of Indonesia Gold
2025. In Kemdiknas own character education becomes the focus of education at
all levels of education are dibinannya , Not except in higher education,
character education also receive considerable attention, yesterday (1/06)
Indonesian Education University (UPI) held a consultation Nasioanal with the
theme "Building National Character by the National Perspective".
Event held at the meeting hall of this UPI, dibidani by the National Center for
Education Pancasila and Insights Nationality UPI.
In
addition to the Deputy Minister of National Education, Prof.dr.Fasli Jalal,
Ph.D, also attended as a speaker like Prof.Dr.Mahfud, MD, SH, SU. Prof.Dr.Jimly
Asshiddiqie, SH. Prof.Dr.Djohermansyah Djohan, M.A. Prof.Dr.H.Sunaryo
Kartadinata, M.Pd. Prof.Dr.H.Dadan Wildfire, M.Hum and Drs. Yadi Ruyadi, M.Sc.
Wamendiknas
in this event reveals the importance of character education to the nation, he
also explained that the character education are closely and motivated by the
desire to realize a national consensus paradigm of Pancasila and the 1945
Constitution Consensus is further clarified through Law No. 20 of 2003 on
Education System national, which reads "the national education serves to
develop the ability and character development and civilization of the nation's
dignity in the context of the intellectual life of the nation, is aimed at
developing students' potentials in order to become a man of faith and fear of
God Almighty, noble, healthy, knowledgeable, capable, creative, independent,
and become citizens of a democratic and responsible. "
From
the wording of the article, Wamendiknas revealed that there have been 5 of 8
potential learners implementation very closely with the goal of establishing
character education. Stickiness is the basic law of the fundamental importance
of the implementation of character education.
Wamendiknas
also said that, basically it starts from the formation of character given the
nature of the Divine, which later formed the identity and behavior. In the
process itself this divine nature dangat influenced by environmental
conditions, so that the environment has an significant role in shaping the
identity and behavior.
Therefore
Wamendiknas said that the school as part of the environment has a very
important role. Wamendiknas recommends that every school and all educational
institutions have a school culture, where every school chooses a discipline and
the habits of the character that will be formed. Wamendiknas any further
notice, so that the leaders and educators that institution can afford to
provide role models of the characters.
Wamendiknas
also said that character education should not be a formal curriculum, but
rather socialized through a learning process. Besides the
means-infrastructures, character education has no special infrastructure,
because that is needed is the awareness and the process of habituation.
Prihal
development itself, Wamendiknas see that local knowledge and education in
pesantern can be used as reference material on the development of character
education, given the scope of its own ssangatlah comprehensive character
education.
The
day prior the event held in this UPI (31/05), in the Meeting Room of Commission
X, the House of Representatives, held a working meeting which discussed
character education. The dirapat present in addition to 25 members of the
faction, is Menkokesra, Minister of Education, Minister of Religious Affairs,
Minister of Culture, Sports Minister, Wamendiknas, Representative of the
Ministry of Interior, as well as first echelon officials relevant ministry.
In
a working meeting was discussed about the readiness of each ministry on the
character education. Menkokesra as coordinator of the framers of character
education is that every ministry is bound to have programs on character
education plan later submitted as material for the birth mengagas decree
regarding character education. Menkokesra also said that later this character
education will be a joint action in its implementation.
The
faction members also see the character education is very important in shaping
the character and the paradigm of Indonesian society. Hopefully, character
education is not only a search process for national character alone, but as the
main mouthpiece of the turning point of civilization's success.
Subscribe to:
Posts (Atom)
